Menurut aku sih, kalau ada tinta hitam di kemeja sekolah aku, itu bakalan jadi kayak bencana hebat!
karena, kalau baju kita yang putih terkena tinta hitam warna hitam yang sangat kontras dengan warna dasar akan membuat noda itu menjadi sangat terlihat. Dan bahkan akan membuat saya tidak akan lagi memakai kemeja itu karena akan menjadi terlihat jelek menurut saya.
Hmm, kayaknya nggak rame ya kalau cuma ngebahas tinta item di kemeja putih. `_` (berfikir mencari topik)
Gimana kalau tinta hitam itu kita perumpamain untuk Gayus Tumbuan, pegawai direktorat jendral pajak dengan golongan 3a itu. Dan Kemeja putihnya adalah tempat dimana Gayus Tumbuan tersebut pernah bekerja. Yaitu, Instansi pemerintah di bidang keuangan. Ya!!! Direktorat Jendral Pajak, atau biar mudah Pajak aja ya ;)
Sebelum kasus Gayus, kita bisa melihat tingkat kepercayaan dan kepuasan mayoritas masyarakat cukup tinggi -bukan berarti sekarang menjadi sangat rendah, karena hal ini dapat dilihat dari meningkatnya spt setelah kasus Gayus menjadi hangat- terhadap Instansi pemerintahan yang bertugas mencari uang untuk negara itu. Atau dengan kata lain setidaknya itu yang kita lihat sebelum kasus Gayus. Karena sekarang banyak demo yang memaki-maki Institusi itu dan BAHKAN PEGAWAINYA yang belum tentu semuanya adalah GAYUS.
Setelah kasus Gayus -yang merupakan setitik tinta itu- kini seluruh yang bersangkutan dengan Instansi negara itu menjadi jelek. Layaknya kemeja saya yang akhirnya tidak terpakai oleh saya karena tinta hitam dari tinta cina ketika saya melukis.
Kini banyak orang yang meneriakkan bahwa pegawai pajak adalah Gayus semua. Padahal seperti layaknya buah anggur. Kalau ada satu biji anggur yang busuk di dalam satu tangkai, tidak berarti kita harus membuang seluruh anggurnya kan?? Karena masih ada Anggur yang baik. Masih ada anggur yang bahkan lebih manis dari pada anggur yang dalam setangkainya sempurna. Begitu juga dengan pegawai pajak. Kalau memang ada lebih dari satu Gayus (atau lebih dari satu titik tinta hitam di kemeja) tidak berarti RIBUAN pegawai pajak juga Gayus. seperti kondisi kemeja seragam saya ternyata bagian belakang kemeja, kerah, saku, lengan, dan bahkan bagian sisi yang paling dekat cipratan tinta ternyata masih sangat bersih.
Jadi, tidak menutup kemungkinan, jika Gayus mempunyai sahabat di Institusi itu -saya juga tidak tahu apa dia punya atau tidak-, sahabatnya bisa jadi bahkan tidak pernah melakukan hal yang sama dengan Gayus.
Bahkan, semalam saya dengar di berita, Bpk Muh. Tjiptarjo bilang, kalau ada pegawai pajak yang naik angkot sepulang kerja dan lupa menanggalkan tanda pegawai pajaknya, dan di teriaki MALING. Bulu kuduk saya merinding, dan seluruh badan saya juga merinding tidak kalah hebatnya ketika mendengar hal tersebut. Saya membayangkan kalau saya adalah pegawai tersebut. Ketika saya susah payah belajar di masa sekolah, sering di marahi orangtua ketika nilai kecil, dan juga merasakan stressnya ketika menunggu pengumuman untuk masuk STAN -jika pegawai itu berasal dari kampus favorit ini- dan ketika saya susah payah untuk belajar di kampus yang katanya cukup disiplin dan memiliki standar nilai yang lumayan WAW! tersebut. Dan ketika saya lulus, saya bekerja di Pajak, Yang seharusnya saya bangga karena anda mungkin tahu, untuk dapat kerja disini tidak bisa sembarang otak. Dan ketika saya pulang kerja, setelah lelah mengurus urusan kantor, melayani masyarakat, atau mungkin selesai memberi penyuluhan ke kota kecil tentang pajak, dan pastinya tubuh kita sangat letih, kita mendengar sebuah kata menyakitkan dari orang yang bahkan tidak kita kenal. orang yang notabene tidak tahu perjuangan kita. Kalau saya menjadi pegawai itu, saya akan langsung menangis meraung-raung dalam angkot.
Dan saya yang seorang pelajar SMA ini cukup sedih ketika mendengar ada gerakan yang memboikot bayar pajak.
Saya yang seorang anak SMA -yang mungkin bodoh dalam hal seperti ini dan bahkan tidak sebaiknya menulis hal ini di blog saya- sangat sedih mendengarnya.
Negara kita bisa membayar para guru yang menghasilkan banyak manusia pintar di negara ini dari uang pajak. Pembangunan juga dari pajak. Untuk menggaji semua pegawai negri -kalau saya tidak salah- berasal dari pajak. Bahkan subsidi untuk bensin premium yang digunakan kita untuk kesekolah, kepasar, ke kantor, ke tempat rekreasi bersama keluarga kita, itu berasal dari pajak. Walaupun itu dari negara uangnya, tapi, negara mendapatkan uang itu dari mana? kita tau kalau pohon yang berbuah uang itu hanya ada dalam dongeng. Jadi, itu semua menurut saya datangnya dari pajak yang dikumpulkan oleh para pegawai pajak-yang tidak semuanya Gayus- dari wajib pajak. Dan uang itu yang nantinya disetorkan ke negara untuk menjadi kas negara.
Jadi, sebenarnya pegawai pajak cuma ngumpulin uang aja kan?
tapi, kenapa ada yang marah-marah sama orang pajak gara-gara jalan masih rusak?
kan sebenarnya ngebetulin jalan bukan tugas orang pajak??
Saya masih terlalu kecil mungkin untuk tahu apa alasannya, atau mungkin pemikiran orang yang marah-marah itu yang seperti saya?
Saya tidak bisa menjawab
Tapi, sebaiknya kita harus melihat semua masalah dari berbagai sudut pandang. Tinta hitam itu salah karena sudah mencipratkan tintanya ke kemeja saya (atau saya yang kurang hati-hati menggunakan tinta itu??)
Gayus memang salah. tapi itu tidak berarti akibat kesalahan gayus harus dirasakan semua pegawai pajak.
Sepengetahuan saya di berita, masih banyak pegawai pajak yang menggunakan motor, dan sangat berhemat atau bahkan mencekik selera untuk mendapatkan barang yang mereka inginkan. Dan masih banyak juga pegawai pajak yang tidak memiliki rumahnya sendiri. mengkontrak mungkin?
Dan masih banyak pegawai pajak yang lurus bekerja di kota kecil dan besar yang jauh dari anak istri seperti Timika, Ponorogo, Jayapura, Lampung, Medan, Aceh, pangkal pinang, dan mungkin kota kecil yang saya tidak tahu. Masih bisa tersenyum manis kepada masyarakat yang mereka layani, walaupun hati mereka hampa karena jauh dari keluarga.
Begitu juga dengan para pegawai lurus, baik, dan menjujung tinggi perinsip lurus mereka dan juga aturan di kejaksaan atau kepolisian yang memiliki nasib sama dengan para pegawai pajak -saya tidak tahu, karena saya belum dengar beritanya.. hehe- karena kasus tinta di kemeja saya ini (maksudnya, Gayus tambunan).
Dan karena kasus ini, saya dapat pelajaran bagus!!
Saya seharusnya masih menggunakan kemeja saya yang terkena tinta itu, karena tidak semua bagiannya terkena tinta. Dan dengan tinta kecil itu, tidak berarti kemeja saya jadi haram untuk di gunakan kan??
hehehe
sekian notes saya... karena saya masih memiliki banyak pr yang harus di kerjakan
=D
terimakasih bagi yang sudah membaca pendapat saya yang muncul karena saya melihat kemeja saya yang terkena tinta ini..
=D
terimakasiiihhhhh
=D
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 Response to "Setitik Tinta Hitam di Kemeja Putih"
Posting Komentar