Tapi, apa jadinya kalau Atlantis itu bukan hanya sekedar dongeng atau mitos? Apalagi Atlantis yang di kenal sebagai sebuah tempat dimana ilmu dan penemuan besar manusia muncul pertama (budaya bercocok tanam, bahasa, metalurgi, astronomi, seni, dll) itu adalah negara kita tercinta INDONESIA!!
Mungkin kita sebagai bangsa Indonesia kaget ya mendengar kalau Indonesia itu Atlantis seperti yang di bahas di buku Prof. Arysio Santos, Ph.D. Negara kita yang hanya sebuah negara berkembang, dengan tingkat kemiskinan yang cukup banyak, dan juga tingkat korupsi yang cukup tinggi, pernah menjadi sebuah sesuatu yang besar seperti Atlantis. Sebuah Kekaisaran dunia yang menjadi sumber segala peradaban besar.
Mungkin untuk yang pertama kali mendengar Atlantis, ringkasan sangat singkat tentang Atlantis ini akan membuat anda tidak terlalu blank tentang ini
Atlantis
Legenda yang berkisah tentang “Atlantis”, pertama kali ditemui dalam karangan filsafat Yunani kuno: Dua buah catatan dialog Plato (427-347 SM) yakni: buku Critias dan Timaeus. Pada buku Timaeus, Plato berkisah: Di hadapan “Selat Mainstay Haigelisi, ada sebuah pulau yang sangat besar, dari sana kalian dapat pergi ke pulau lainnya, di depan pulau-pulau itu adalah seluruhnya daratan yang dikelilingi laut samudera, itu adalah kerajaan Atlantis. Ketika itu Atlantis baru akan melancarkan perang besar dengan Athena, namun di luar dugaan Atlantis tiba-tiba mengalami gempa bumi dan banjir, tidak sampai sehari semalam, tenggelam sama sekali di dasar laut. negara besar yang mempunyai peradaban tinggi itupun lenyap dalam semalam.” Satu bagian dalam dialog buku Critias, tercatat kisah Atlantis yang dikisahkan oleh adik sepupu Critias. Critias adalah murid dari ahli filsafat Socrates , tiga kali ia menekankan keberadaan Atlantis dalam dialog.Kisahnya berasal dari cerita lisan Joepe yaitu moyang lelaki Critias, sedangkan Joepe juga mendengarnya dari seorang penyair Yunani bernama Solon ( 639-559 SM).
Solon adalah yang paling bijaksana di antara 7 mahabijak Yunani kuno, suatu kali ketika Solon berkeliling Mesir, dari tempat pemujaan makam leluhur mengetahui legenda Atlantis. Catatan dalam dialog, secara garis besar seperti berikut ini: “Ada sebuah daratan raksasa di atas Samudera Atlantik arah barat Laut Tengah yang sangat jauh, yang bangga dengan peradabannya yang menakjubkan. Ia menghasilkan emas dan perak yang tak terhitung banyaknya: istana dikelilingi oleh tembok emas dan dipagari oleh dinding perak. Dinding tembok dalam istana bertakhtakan emas,cemerlang dan megah. Di sana, tingkat perkembangan peradabannya memukau orang. Memiliki pelabuhan dan kapal dengan perlengkapan yang sempurna, juga ada benda yang bisa membawa orang terbang. Kekuasaannya tidak hanya terbatas di Eropa, bahkan jauh sampai daratan Afrika. Setelah dilanda gempa dahsyat,tenggelamlah ia ke dasar laut beserta peradabannya, juga hilang dalam ingatan orang-orang.”


inilah penjelasan singkat yang saya kutip dari http://www.awangfaisal.com/atlantis-benua-yang-hilang
Atlantis merupakan sebuah kekuatan yang sangat besar. Dan juga maju. Bayangkan saja, Negara kita tercinta baru memiliki maskapai penerbangannya yaitu Garuda Indonesia pada tanggal 26 January 1949. Dan Atlantis, sudah bisa terbang menggunakan pesawat lebih dari 11.600 tahun yang lalu. Sungguh sangat luar biasa. Selain kekayaan alam yang dimiliki oleh atlantis, kekaisaran itu pun memiliki kekayaan dalam hal tekhnologinya. Bahkan saya pernah membaca di salah satu blog atau situs -saya kurang ingat- bahwa pada saat terjadi bencana alam yang besar dan mengakibatkan hilangnya atlantis ada penduduknya yang masih bisa menyelamatkan diri -menurut Arysio Santos, yang menyelamatkan diri ini lah yang akhirnya membentuk sebuah peradaban-peradaban baru lainya seperti Maya, Aztec, Mesir, Inca, dll- menggunakan sebuah perahu. Dan menurut saya, sungguh sangat hebat dalam volume yang tidak sedikit manusia peradaban kuno tersebut bisa selamat dari bencana itu dengan menggunakan perahu, yang berarti merekapun memiliki semacam alat navigasi seperti yang di miliki para pelaut atau TNI-AL jika sedang berada di tengah lautan. Karena, menurut saya, tanpa adanya alat pembantu arah semacam itu, akan sangat sulit untuk bisa berlayar jauh.
Baiklah, intinya peradaban Atlantis tidak bisa di pandang sebelah mata.
dan ini merupakan teori profesor santos
Kisah-kisah sejenis atau mirip kisah Atlantis ini yang berakhir dengan bencana banjir dan gempa bumi, ternyata juga ditemui dalam kisah-kisah sakral tradisional di berbagai bagian dunia, yang diceritakan dalam bahasa setempat. Menurut Santos, ukuran waktu yang diberikan Plato 11.600 tahun BP (Before Present), secara tepat bersamaan dengan berakhirnya Zaman Es Pleistocene, yang juga menimbulkan bencana banjir dan gempa yang sangat hebat.
Bencana ini menyebabkan punahnya 70% dari species mamalia yang hidup saat itu, termasuk kemungkinan juga dua species manusia : Neandertal dan Cro-Magnon. Sebelum terjadinya bencana banjir itu, pulau Sumatera, pulau Jawa, Kalimantan dan Nusa Tenggara masih menyatu dengan semenanjung Malaysia dan benua Asia.
Sulawesi, Maluku dan Irian masih menyatu dengan benua Australia dan terpisah dengan Sumatera dan lain-lain itu. Kedua kelompok pulau ini dipisahkan oleh sebuah selat yang mengikuti garis ‘Wallace’.Posisi Indonesia terletak pada 3 lempeng tektonis yang saling menekan, yang menimbulkan sederetan gunung berapi mulai dari Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, dan terus ke Utara sampai ke Filipina yang merupakan bagian dari ‘Ring of Fire’.
Gunung utama yang disebutkan oleh Santos, yang memegang peranan penting dalam bencana ini adalah Gunung Krakatau dan ‘sebuah gunung lain’ (kemungkinan Gunung Toba). Gunung lain yang disebut-sebut (dalam kaitannya dengan kisah-kisah mytologi adalah Gunung Semeru, Gunung Agung, dan Gunung Rinjani.
Bencana alam beruntun ini menurut Santos dimulai dengan ledakan dahsyat gunung Krakatau, yang memusnahkan seluruh gunung itu sendiri, dan membentuk sebuah kaldera besar yaitu selat Sunda yang jadinya memisahkan pulau Sumatera dan Jawa.
Letusan ini menimbulkan tsunami dengan gelombang laut yang sangat tinggi, yang kemudian menutupi dataran-dataran rendah diantara Sumatera dengan Semenanjung Malaysia, diantara Jawa dan Kalimantan, dan antara Sumatera dan Kalimantan.
Abu hasil letusan gunung Krakatau yang berupa ‘fly-ash’ naik tinggi ke udara dan ditiup angin ke seluruh bagian dunia yang pada masa itu sebagian besar masih ditutup es (Zaman Es Pleistocene) . Abu ini kemudian turun dan menutupi lapisan es. Akibat adanya lapisan abu, es kemudian mencair sebagai akibat panas matahari yang diserap oleh lapisan abu tersebut. Gletser di kutub Utara dan Eropah kemudian meleleh dan mengalir ke seluruh bagian bumi yang rendah, termasuk Indonesia.
Banjir akibat tsunami dan lelehan es inilah yang menyebabkan air laut naik sekitar 130 meter diatas dataran rendah Indonesia. Dataran rendah di Indonesia tenggelam dibawah muka laut, dan yang tinggal adalah dataran tinggi dan puncak-puncak gunung berapi.
Tekanan air yang besar ini menimbulkan tarikan dan tekanan yang hebat pada lempeng-lempeng benua, yang selanjutnya menimbulkan letusan-letusan gunung berapi selanjutnya dan gempa bumi yang dahsyat. Akibatnya adalah berakhirnya Zaman Es Pleitocene secara dramatis.
Dalam bukunya Plato menyebutkan bahwa Atlantis adalah negara makmur yang bermandi matahari sepanjang waktu. Padahal zaman pada waktu itu adalah Zaman Es, dimana temperatur bumi secara menyeluruh adalah kira-kira 15 derajat Celcius lebih dingin dari sekarang.
Lokasi yang bermandi sinar matahari pada waktu itu hanyalah Indonesia yang memang terletak di katulistiwa.
Plato juga menyebutkan bahwa luas benua Atlantis yang hilang itu “….lebih besar dari Lybia (Afrika Utara) dan Asia Kecil digabung jadi satu…”. Luas ini persis sama dengan luas kawasan Indonesia ditambah dengan luas Laut China Selatan.
Menurut Profesor Santos, para ahli yang umumnya berasal dari Barat, berkeyakinan teguh bahwa peradaban manusia berasal dari dunia mereka. Tapi realitas menunjukkan bahwa Atlantis berada di bawah perairan Indonesia dan bukan di tempat lain.
Santos telah menduga hal ini lebih dari 20 tahunan yang lalu sewaktu dia mencermati tradisi-tradisi suci dari Junani, Roma, Mesir, Mesopotamia, Phoenicia, Amerindian, Hindu, Budha, dan Judeo-Christian. Walau dikisahkan dalam bahasa mereka masing-masing, ternyata istilah-istilah yang digunakan banyak yang merujuk ke hal atau kejadian yang sama.
Santos menyimpulkan bahwa penduduk Atlantis terdiri dari beberapa suku/etnis, dimana 2 buah suku terbesar adalah Aryan dan Dravidas. Semua suku bangsa ini sebelumya berasal dari Afrika 3 juta tahun yang lalu, yang kemudian menyebar ke seluruh Eurasia dan ke Timur sampai Auatralia lebih kurang 1 juta tahun yang lalu.
Di Indonesia mereka menemukan kondisi alam yang ideal untuk berkembang, yang menumbuhkan pengetahuan tentang pertanian serta peradaban secara menyeluruh. Ini terjadi pada zaman Pleistocene.
Pada Zaman Es itu, Atlantis adalah surga tropis dengan padang-padang yang indah, gunung, batu-batu mulia, metal berbagai jenis, parfum, sungai, danau, saluran irigasi, pertanian yang sangat produktif, istana emas dengan dinding-dinding perak, gajah, dan bermacam hewan liar lainnya. Menurut Santos, hanya Indonesialah yang sekaya ini.
Ketika bencana yang diceritakan diatas terjadi, dimana air laut naik setinggi kira-kira 130 meter, penduduk Atlantis yang selamat terpaksa keluar dan pindah ke India, Asia Tenggara, China, Polynesia, dan Amerika. Suku Aryan yang bermigrasi ke India mula-mula pindah dan menetap di lembah Indus. . Karena glacier Himalaya juga mencair dan menimbulkan banjir di lembah Indus, mereka bermigrasi lebih lanjut ke Mesir, Mesopotamia, Palestin, Afrika Utara, dan Asia Utara.
Di tempat-tempat baru ini mereka kemudian berupaya mengembangkan kembali budaya Atlantis yang merupakan akar budaya mereka. Catatan terbaik dari tenggelamnya benua Atlantis ini dicatat di India melalui tradisi-tradisi cuci di daerah seperti Lanka, Kumari Kandan, Tripura, dan lain-lain. Mereka adalah pewaris dari budaya yang tenggelam tersebut.
Suku Dravidas yang berkulit lebih gelap tetap tinggal di Indonesia.
Migrasi besar-besaran ini dapat menjelaskan timbulnya secara tiba-tiba atau seketika teknologi maju seperti pertanian, pengolahan batu mulia, metalurgi, agama, dan diatas semuanya adalah bahasa dan abjad di seluruh dunia selama masa yang disebut Neolithic Revolution.
Bahasa-bahasa dapat ditelusur berasal dari Sansekerta dan Dravida. Karenanya bahasa-bahasa di dunia sangat maju dipandang dari gramatika dan semantik. Contohnya adalah abjad. Semua abjad menunjukkan adanya “sidik jari” dari India yang pada masa itu merupakan bagian yang integral dari Indonesia.
Dari Indonesialah lahir bibit-bibit peradaban yang kemudian berkembang menjadi budaya lembah Indus, Mesir, Mesopotamia, Hatti, Junani, Minoan, Crete, Roma, Inka, Maya, Aztek, dan lain-lain. Budaya-budaya ini mengenal mitos yang sangat mirip. Nama Atlantis diberbagai suku bangsa disebut sebagai Tala, Attala, Patala, Talatala, Thule, Tollan, Aztlan, Tluloc, dan lain-lain.
Itulah ringkasan teori Profesor Santos yang ingin membuktikan bahwa benua atlantis yang hilang itu sebenarnya berada di Indonesia. Bukti-bukti yang menguatkan Indonesia sebagai Atlantis, dibandingkan dengan lokasi alternatif lainnya disimpulkan Profesor Santos dalam suatu matrix yang disebutnya sebagai ‘Checklist’ (KLIK DISINI).
Terlepas dari benar atau tidaknya teori ini, atau dapat dibuktikannya atau tidak kelak keberadaan Atlantis di bawah laut di Indonesia, teori Profesor Santos ini sampai saat ini ternyata mampu menarik perhatian orang-orang luar ke Indonesia. Teori ini juga disusun dengan argumentasi atau hujjah yang cukup jelas.
Kalau ada yang beranggapan bahwa kualitas bangsa Indonesia sekarang sama sekali “tidak meyakinkan” untuk dapat dikatakan sebagai nenek moyang dari bangsa-bangsa maju yang diturunkannya itu, maka ini adalah suatu proses maju atau mundurnya peradaban yang memakan waktu lebih dari sepuluh ribu tahun.
Profesor Santos akan terus melakukan penelitian lapangan lebih lanjut guna membuktikan teorinya. Kemajuan teknologi masa kini seperti satelit yang mampu memetakan dasar lautan, kapal selam mini untuk penelitian (sebagaimana yang digunakan untuk menemukan kapal ‘Titanic’), dan beragam peralatan canggih lainnya diharapkannya akan mampu membantu mencari bukti-bukti pendukung yang kini diduga masih tersembunyi di dasar laut di Indonesia.
Menurut Saya
Saya, yang merupakan bangsa Indonesia setidaknya merasa sedikit bangga dengan kenyataan Indonesia adalah Atlantis. Walaupun cukup menyedihkan untuk melihat kenyataannya sekarang. Dimana negara-negara lain, atau bahkan negara tetangga memiliki monorail sebagai transportasinya sedangkan Indonesia yang tadinya merupakan sebuah negara yang "pernah" menjadi yang terhebat -Atlantis- masih menggunakan kereta api yang bahkan untuk mencapai jarak 500-600 km dalam 9-10 jam atau bahkan lebih. Dimana negara lain sudah ada yang memiliki kereta yang bisa mencapai jarak tersebut dalam satu jam saja.
Dimana angkutan publiknya tidak nyaman, dan tidak bisa memberikan ketepatan waktu. Pengalaman saya ketika saya pulang sekolah, saya terpaksa harus turun dari angkot -angkutan kota- yang saya tumpangi dan pindah ke angkutan lain karena mogok atau karena kehabisan bensin. Dan bahkan ketika penumpangnya sudah penuh, sang supir masih memaksa untuk memasukan muatan lagi. Dan akhirnya mengakibatkan seorang anak sd terpaksa jongkok di tengah angkutan tersebut. Belum lagi ketika angkot 'ngetem'.
Mungkin masih cukup banyak kekurangan dari negara saya tercinta ini, yang mungkin kalau saya curhatkan di sini akan sangat panjang. Tapi setidaknya kenyataan Atlantis adalah Indonesia setidaknya bisa menjadi embun penyejuk di hati Bangsa yang sangat panas seperti gurun ini.
Atlantis memang merupakan Kekaisaran yang hebat. Tapi, sebagai bangsa yang disebut-sebut sebagai tempat dimana atlantis berlokasi sebenarnya menurut saya kita tidak boleh terlalu berbangga diri dengan hal yang bisa menjadi sebuah "masa lalu" bangsa kita. Kita yang merupakan bangsa dari negara berkambang harus menggambil banyak pelajaran berharga atas Atlantis, seperti mengapa sebuah bencana yang merupakan keajaiban mengakibatkan Atlantis hilang.
Sebuah negara yang besar dan patut menjadi besar berasal dari jiwa di dalam individu masyarakatnya. Dan kumpulan dari jiwa-jiwa besar dan hebat masyarakatnya itulah yang menghembuskan jiwa kepada suatu negara yang akhirnya bisa menjadikan negara ini BESAR. Tidak lagi menajdi negara yang menangis karena kekayaan budaya yang di curi orang lain. Tidak lagi menjadi negara yang hanya bisa gigit jari ketika negara lain sudah berlangkah-langkah lebih maju dan tidak lagi menjadi negara yang tidak diingat dan di ketahui kelompok masyarakat di seluruh dunia.
Ayo Bangkit Indonesia Kami!!!
=D


0 Response to "Atlantis itu Indonesia dan kenyataan Indonesia yang adalah atlantis"
Posting Komentar