Kita semua itu satu

Waktu SD, kalau nggak salah kelas 4 atau 5 sd, guru saya memberikan pelajaran tentang sumpah pemuda. Pada tanggal 28 Oktober 1928, sumpah pemuda di bacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin. Dan akhirnya, setiap tanggal 28 oktober, di peringati sebagai hari sumpah pemuda.
Waktu saya SD, saya tidak terlalu memaknai isi dari sumpah pemuda itu. Saya hanya menghapalnya karena besoknya ulangan atau akan ada tes dari guru.
Tapi, setelah saya besar. Saya baru mengerti arti besar dari sumpah pemuda itu. Saya hanya sekedar bergetar ketika guru saya membacakan naskah sumpah pemuda ini
Sumpah Pemuda versi orisinal:

Pertama
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.


Semuanya mengacu bahwa kita adalah satu. Bahwa kita Bertanah, berbangsa, dan berbahasa yang satu. Dan semua itu mengacu pada satu kata yang sama "INDONESIA".

Hingga sekarang saya selalu bergetar ketika mendengar atau membaca sendiri naskah ini. Tiga Kalimat dengan Tiga puluh tiga kata. Sebuah susunan kata yang singkat namun bermakna besar. Hal itu membuat kita meresa seluruh bangsa indonesia adalah satu. Mereka adalah tetap satu Indonesia. Bukan Minang, Sunda, Batak, Jawa, Papua, Bali, Dayak, Madura, Nusa Tenggara, Makasar, Ambon, dan banyak lagi suku dan daerah di Indonesia kita yang sangat kayak akan budaya ini. Tidak ada perbedaan antara Jawa dan Minang, Papua dan Batak, Dayak dan Bali, dll. Kita semua adalah satu. Suku-suku dan daerah-daerah yang menjadi satu. Satu kata yang merangkum banyak perbedaan baik agama, budaya, bahasa dan kebiasaan. INDONESIA.

Tidak ada saya batak saya Minang saya Jawa. Apalagi Saya Bandung kamu Surabaya, saya Semarang, kamu Jakarta. Ataupun saya dusun A (contoh) atau saya dusun B (contoh).

Banyak darah, pengorbanan, tangisan, jeritan, dan bahkan nyawa yang di relakan para pahlawan kita yang hebat. Pahlawan kita yang berjiwa besar merelakan dan mengorbankan semuanya demi sebuah kata MERDEKA. Sebuah kata yang di maksudkan agar kita menjadi satu. Agar kita semua bersamaan lepas dari para penjajah. Agar kita semua secara bersamaan dapat menghirup uadara segar tanpa rasa takut. Satu kata yang mereka coba raih untuk kita para penerus. Untuk para pemuda dan pemudi yang mengemban tanggung jawab besar untuk mempertahankan dan mengembangkan apa yang seharusnya terjadi setelah kemerdekaan.

Kita memang bukan Amerika Serikat yang menjadi negara adikuasa. Kita memang bukan Jepang yang memiliki tekhnologi hebat. Kita memang bukan negara-negara hebat yang di segani dan di hormati seluruh dunia. Tapi kita adalah sebuah negara yang memiliki apa yang di dambakan negara-negara hebat. WE HAVE WHAT THEY HAVEN'T.

Dan sudah seharusnya kita para penerus bangsa mengesampingkan ego-ego sesaat yang membuat makna besar sumpah pemuda menguap. Bayangkan apa yang kita sakiti adalah adik kandung kita sendiri. Kita memukulnya dan menghakiminya hanya karena ego dan Arogansi kita yang sesaat. Hingga dia meninggal atau sekarat akibat apa yang sudah kita lakukan. Bangsa kita terlalu mengelu-elukan apa yang bukan menjadi miliknya seperti (maaf, no SARA) Nama Obama, atau Barry, seorang anak menteng yang tinggal hanya beberapa tahun di menteng, dan bahkan sekarang kewarganegaraannya bukan Indonesia di elu-elukan bagai Raja. Sebenarnya saya tidak menyalahkan hal itu. Itu merupakan sebuah apresiasi bagus untuk menghargai seseorang yang pernah tinggal dan mengenyam pendidikan Indonesia, dan akhirnya menjadi pemimpin sebuah negara Adikuasa. Tapi yang saya tanyakan, akankah orang Indonesia mengelu-elukan sosoknya jika dia bukanlah dia yang sekarang?? jika dia hanya pimpinan sebuah perusahaan kecil atau bahkan (maaf sekali) gelandangan di negara Adikuasa itu?? Seharusnya, kita boleh seperti itu jika apa yang kita lakukan pada sesama warga negara INDONESIA sama. Kita tidak memperlakukan para juara olimpiade tingkat dunia kita seperti sosok anak menteng itu. Bahkan, kita memperlakukan salah satu pahlawan ekonomi kita ketika negara kita berada di krisis ekonomi global seperti sampah!! seperti keresek bekas muntah yang dengan hinanya di lindas oleh kendaraan-kendaraan dan di coreti dengan gambar yang sangat menyayat hati. Hingga akhirnya mata-mata cermat yang mengetahui potensinya menunjuknya menjadi salah satu yang WAH! dan dipandang dunia. Apakah kita mau dia menjadi penambah daftar orang-orang hebat dan pintar indonesia yang pergi dari negara ini karena tidak ada penghargaan dan kebanggaan untuk berdiri di negara sendiri?
Kakak sepupu dan Om saya sudah menjadi warga negara asing karena merasa lebih mendapat apresiasi daripada ketika di Indonesia.


Selain itu, bangsa kita ini sudah lupa akan makna dari sumpah pemuda -atau tidak pernah tau. Karena, tetap saja masih ada peperangan tidak perlu. Masih saja banyak tawuran atau pengeroyokan hanya di karenakan hal yang tidak begitu besar dibandingkan persatuan dan kesatuan negara kita. Padahal kita semua adalah satu. Bangsa Indonesia.
Dan sebenarnya, sumpah pemuda memiliki makna yang luas. Seperti, kita semua adalah satu, keturunan Adam dan Hawa. Makhluk ciptaan Allah, atau Tuhan -karena Indonesia mengakui 5 agama. Seharusnya, suatu saat nanti tidak ada lagi saya Indonesia, saya Malaysia, Saya Amerika, saya Inggris, saya Iran, saya Irak, saya Palestina, saya Israel..

Maybe, i'm just small points such as dust who hope that someday, there're no war, no suffer, and not only for Indonesia people, but also for all in this world, can living in peace, joy, and hapiness...
I hope....

0 Response to "Kita semua itu satu"

Posting Komentar